Tanaman babadotan yang banyak ditemui di
sekitar lahan pertanian dan merupakan gulma yang dapat menimbulkan kerugian
bagi pertumbuhan tanaman pertanian, ternyata dapat dimanfaatkan sebagai
pestisida nabati. Dengan perkembangan teknologi penggunaan pestisida
nabati yang aman dan ramah lingkungan yang berasal dari bahan
tumbuhan babadotan dapat menjadi pengganti pestisida kimia yang banyak
digunakan oleh petani untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Sekaligus dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berlebihan, biaya
produksi dan dampak buruk bagi kesehatan petani dan lingkungan.
Babadotan (Ageratum
conyzoides L.) merupakan tumbuhan dari familiAsteraceae. Nama
babadotan sendiri biasa dikenal di Jawa, sedangkan di Sumatera dikenal daun
tombak, dan di Madura disebut wedusan. Tumbuhan ini merupakan herba menahun,
tegak dengan ketinggian 30 - 80 cm dan mempunyai daya adaptasi yang tinggi,
sehingga mudah tumbuh di mana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para
petani (Sukamto, 2007).
Batang babadotan bulat, tegak, berbulu, dan
bercabang. Daun saling berhadapan, bundar telur, segitiga hingga bundar telur
atau belah ketupat hingga bundar telur, ujungnya lancip dan pinggirnya
bergerigi. Perbungaan bongkol, mengelompok berwarna putih sampai keunguan.
Perkembangbiakan dengan biji. Babadotan tumbuh di tempat terbuka atau tegak
terlindung hingga 2.100 m diatas permukaan laut.
a. Babadotan sebagai Pestisida
Nabati
Sebagai pestisida nabati, ekstrak daun
babadotan mampu berfungsi sebagai insektisida nabati. Daun mengandung dua
senyawa aktif precocene I dan precocene II, selain itu mengandung saponin,
flavanoid dan polifenol dan minyak atsiri. Senyawa precocene I dan precocene II
dikenal sebagai senyawa anti hormon juvenil, yaitu hormon yang diperlukan oleh
serangga selama metamorfosis dan reproduksi. Diduga senyawa
precocene mengalami reaksi kimia dalam tubuh serangga sehingga menjadi reaktif
dan menyebabkan terjadinya kerusakan protein sel dan kematian
sel. Sel-sel yang mengalami kematian terutama adalah sel-sel
kelenjar corpora allata yang menghasilkan hormon juvenil (Ditjenbun, 1994).
Pemberian senyawa precocene akan menyebabkan
turunnya titer hormon juvenil sehingga pada serangga sasaran terjadi
metamorfosis dini, imago menjadi steril, diapause, dan terganggunya produksi
feromon. Senyawa precocene yang terkandung pada daun babadotan
bekerja sebagai racun kontak dan racun perut yang efektif untuk mengendalikan
serangga-serangga hama antara lain: Aphis
craccivora, Bombyx mori, Oncopeltus fasciatus, Dysdercus cingulatus, Heliothis
armigera, dan H. talaca(Ditjenbun, 1994).
Selain sebagai insektisida nabati, daun
babadotan juga sebagai herbisida nabati. Bila kita perhatikan dengan
teliti, tanaman babadotan seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan
tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Babadotan diduga kuat mempunyai
alelopati, suatu keadaan di mana tanaman/bahan tanaman mengeluarkan eksudat
kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lainnya. Hasil penelitian Xuanet al., yang
dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection,
2004, 23: (915 - 922), 2004; penggunaan daun babadotan dengan dosis 2 ton/ha
dapat menekan sampai 75% pertumbuhan beberapa gulma pada pertanaman padi
sepertiAeschynomene
indica, Monochoria
vaginalis, dan Echinochloa
crusgalli var. Formosensis Ohwi.
Kemampuan daun babadotan sebagai alelopati diidentifikasi karena adanya 3
phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang
dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi (Sukamto, 2007).
b. Pembuatan Pestisida
Sederhana dari Ekstrak Daun Babadotan
Cara
pembuatan pestisida nabati dengan menggunakan daun babadotan salah satunya
dengan cara: 0,5 kg daun babadotan ditimbang lalu dihaluskan kemudian
dilarutkan kedalam 1 liter air ditambah 1 gram deterjen, campuran ini
diendapkan selama satu malam. Kegunaan dari deterjen adalah untuk perekat dari
pestisida nabati tersebut supaya pestisida bisa menempel pada tanaman dan
deterjen itu tidak akan berbahaya karena pemakaian yang sedikit.
Pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan
menggunakan alat semprot (sprayer) gendong seperti pestisida kimia pada
umumnya. Namun, apabila tidak dijumpai alat semprot, aplikasi pestisida nabati
dapat dilakukan dengan bantuan kuas penyapu (pengecat) dinding atau merang yang
diikat. Caranya, alat tersebut dicelupkan kedalam ember yang berisi larutan
pestisida nabati, kemudian dikibas-kibaskan pada tanaman
sumber
(KKN Bojong Parigi,
2011).diakses tanggal 4 januari 2017 pada jam 19.00

