Minggu, 18 Desember 2016

Manfaat Ageratum Conyzoides (Babandotan)




Tanaman babadotan yang banyak ditemui di sekitar lahan pertanian dan merupakan gulma yang dapat menimbulkan kerugian bagi pertumbuhan tanaman pertanian, ternyata dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati. Dengan perkembangan teknologi penggunaan pestisida nabati yang aman dan ramah lingkungan yang berasal dari bahan tumbuhan babadotan dapat menjadi pengganti pestisida kimia yang banyak digunakan oleh petani untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Sekaligus dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia yang berlebihan, biaya produksi dan dampak buruk bagi kesehatan petani dan lingkungan.
Babadotan (Ageratum conyzoides L.) merupakan tumbuhan dari familiAsteraceae. Nama babadotan sendiri biasa dikenal di Jawa, sedangkan di Sumatera dikenal daun tombak, dan di Madura disebut wedusan. Tumbuhan ini merupakan herba menahun, tegak dengan ketinggian 30 - 80 cm dan mempunyai daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah tumbuh di mana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para petani (Sukamto, 2007).
Batang babadotan bulat, tegak, berbulu, dan bercabang. Daun saling berhadapan, bundar telur, segitiga hingga bundar telur atau belah ketupat hingga bundar telur, ujungnya lancip dan pinggirnya bergerigi. Perbungaan bongkol, mengelompok berwarna putih sampai keunguan. Perkembangbiakan dengan biji. Babadotan tumbuh di tempat terbuka atau tegak terlindung hingga 2.100 m diatas permukaan laut.
a. Babadotan sebagai Pestisida Nabati
Sebagai pestisida nabati, ekstrak daun babadotan mampu berfungsi sebagai insektisida nabati. Daun mengandung dua senyawa aktif precocene I dan precocene II, selain itu mengandung saponin, flavanoid dan polifenol dan minyak atsiri. Senyawa precocene I dan precocene II dikenal sebagai senyawa anti hormon juvenil, yaitu hormon yang diperlukan oleh serangga selama metamorfosis dan reproduksi.  Diduga senyawa precocene mengalami reaksi kimia dalam tubuh serangga sehingga menjadi reaktif dan menyebabkan terjadinya kerusakan protein sel dan kematian sel.  Sel-sel yang mengalami kematian terutama adalah sel-sel kelenjar corpora allata yang menghasilkan hormon juvenil (Ditjenbun, 1994).
Pemberian senyawa precocene akan menyebabkan turunnya titer hormon juvenil sehingga pada serangga sasaran terjadi metamorfosis dini, imago menjadi steril, diapause, dan terganggunya produksi feromon.  Senyawa precocene yang terkandung pada daun babadotan bekerja sebagai racun kontak dan racun perut yang efektif untuk mengendalikan serangga-serangga hama antara lain: Aphis craccivora, Bombyx mori, Oncopeltus fasciatus, Dysdercus cingulatus, Heliothis armigera, dan H. talaca(Ditjenbun, 1994). 
Selain sebagai insektisida nabati, daun babadotan juga sebagai herbisida nabati. Bila kita perhatikan dengan teliti, tanaman babadotan seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Babadotan diduga kuat mempunyai alelopati, suatu keadaan di mana tanaman/bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lainnya. Hasil penelitian Xuanet al., yang dilakukan di Fakultas Pertanian, Universitas Miyazaki, Jepang, (Crop Protection, 2004, 23: (915 - 922), 2004; penggunaan daun babadotan dengan dosis 2 ton/ha dapat menekan sampai 75% pertumbuhan beberapa gulma pada pertanaman padi sepertiAeschynomene indica, Monochoria vaginalis, dan Echinochloa crusgalli var. Formosensis Ohwi. Kemampuan daun babadotan sebagai alelopati diidentifikasi karena adanya 3 phenolic acid yaitu gallic acid, coumalic acid dan protocatechuic acid, yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa gulma pada tanaman padi (Sukamto, 2007).
 b. Pembuatan Pestisida Sederhana dari Ekstrak Daun Babadotan
Cara pembuatan pestisida nabati dengan menggunakan daun babadotan salah satunya dengan cara: 0,5 kg daun babadotan ditimbang  lalu dihaluskan kemudian dilarutkan kedalam 1 liter air ditambah 1 gram deterjen, campuran ini diendapkan selama satu malam. Kegunaan dari deterjen adalah untuk perekat dari pestisida nabati tersebut supaya pestisida bisa menempel pada tanaman dan deterjen itu tidak akan berbahaya karena pemakaian yang sedikit.

Pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan menggunakan alat semprot (sprayer) gendong seperti pestisida kimia pada umumnya. Namun, apabila tidak dijumpai alat semprot, aplikasi pestisida nabati dapat dilakukan dengan bantuan kuas penyapu (pengecat) dinding atau merang yang diikat. Caranya, alat tersebut dicelupkan kedalam ember yang berisi larutan pestisida nabati, kemudian dikibas-kibaskan pada tanaman 

sumber
(KKN Bojong Parigi, 2011).diakses tanggal 4 januari 2017 pada jam 19.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar